Kegiatan KKU Unika Soegijapranata oleh Kelompok 15, Gisikdrono

by admin

11 July 2018


Mitra I – Warung Pecel dan Gorengan Bu Harmi

Program Bedah Warung

Program ini merupakan program utama kami. Program ini kami lakukan karena melihat dari kondisi warung dari mitra kami ini. Jika dilihat secara sepintas, kita tidak akan tahu jika ini adalah sebuah warung makan karena memang menurut kami kurang begitu terlihat sebagai warung makan. Dengan bagian samping yang tamballan dan tanpa warna yang jelas kita tidak mengetahui bahwa di situ ada warung makan. Jadi disini yang kami maksudkan bedah warung adalah tertuju pada pengecatan bagian luar warung makan agar lebih menarik konsumen untuk datang.

Yang pertama kami lakukan untuk menajalankan program ini adalah dengan melakukan pengukuran terhadap setiap bagian yang akan kita lakukan pengecatan. Yang kami ukur adalah seluruh bagian luar dari warung makan dan juga bagian perabotan yang warnanya sudah jelek. Setelah itu kami kemudian mencoba berkonsultasi dengan mitra kami yaitu Bu Harmi untuk warna apa yang beliau inginkan untuk cat bagian luar dari warung ini. Setelah menentukan warna kami mencari waktu yang tepat agar pengecatan kami ini tidak mengganggu jam operasional berjualan dari warung makan ini. Setelah melakukan diskusi waktu yang kami pilih adalah waktu puasa karena warung bukanya pada saat sore hari sehingga dari pagi sampai siang kami bisa melakukan pengecatan. Pengecatan berjalan dengan mulus, diawali dengan mengamplas seluruh bagian luarnya baru kita lakukan pengecatan dengan warna pink yang di inginkan oleh mitra kita. Setelah kita lakukan pengecatan ternyata menurut Bu harmi sendiri konsumen yang datang juga bertambah. Semoga program ini benar-benar pada akhirnya mampu meningkatkan konsumen dari warung makan ini.

Program Pembukuan

Program ini diadakan atas hasil obervasi kami saat one day, dimana Bu Harmi mengatakan bahwa selama ini beliau tidak tahu mengenai hasil kinerja keuangan warungnya. Beliau tidak bisa menjawab saat kami menanyai mengenai laba rugi warungnya sehari hari. Bu Harmi bercerita bahwa uang yang ada di pagi hari sebesar Rp 200,000 yang ia pinjam dari anaknya diputarkan terus menerus untuk membeli bahan baku selama satu hari, dan biasanya uang itu hanya kembali Rp 220,000 atau bahkan kembali tetapi kurang dari Rp 200,000. Dari cerita itulah, maka kami tergerak hari untuk mengajari pembukuan sederhana yang saya dapat di bangku perkuliahan.

Pada pertemuan berikutnya kami sudah membelikan buku batik folio dan memberikan format keuangan yang perlu di input oleh bu Harmi untuk mengetahui laba rugi pada setiap harinya. Ternyata, bu Harmi tidak bisa baca tulis, tetapi hal tersebut dapat diselesaikan karena anak bu Harmi yang setiap hari membantu berjualan bisa baca tulis dan sanggup untuk membuat pembukuan. Selama pemantauan 14 kali pertemuan, pembukuan tersebut rajin ditulis, dan kami melihat bahwa laba dari bu Harmi fluktuatif. Terkadang laba bisa mencapai Rp 80,000 tetapi juga bisa rugi Rp 20,000. Dari data tersebut, kami menyarankan ke Bu Harmi agar meningkatkan produksi barang yang laku, dan menurunkan produksi barang yang sedikit tidak laku. Semoga dengan adanya program pembukuan ini, warung pecel dan gorengan bu Harmi bisa semakin maju dari faktor ekonomi, serta dapat menghidupi keluarganya.

Pengadaan Barang

Pada temuan masalah yang kami hadapi pada mitra 1 ini adalah karena sebagai tempat makan menurut kelompok kami warung makan ini kurang nyaman karena orang tidak bisa makan di tempat. Warung ini hanya menyediakan makanan jadi yang dibungkus sehingga orang tidak bisa menyantapnya di tempat. Melihat ini, kami ingin menambahkan meja dan kursi yang di harapkan mampu untuk menambah jumlah konsumen yang makan disana karena melihat adanya potensi orang makan disana karena warung ini setiap harinya dilewati mahasiswa yang kuliah didekat situ yang berarti di sekitar dari warung makan milik Bu Harmi ini dekat dengan kos-kosan. Anak kos-kosan biasanya menyukai hal yang praktis seperti kalau makan lebih memilih makan ndi tempat karena tidak harus mencuci piring dan peralatan makan lainnya.

Program yang kami rencanakan akhirnya terwujud yaitu membuatkan meja dan kursi untuk mitra. Setelah awalnya mempertimbangkan menggunakan kursi bakso, akhirnya kami memilih menggunakan kursi kayu karena kursi bakso harganya per satuan lebih mahal dibandingkan dengan kursi kayu yang kami buatkan. Selain lebih mahal karena tingginya tidak bisa d=diatur dan disesuaikan dengan meja yang kami buatkan, karena meja yang kami buat kan adalah meja yang memanfaatkan penutup warung yang merupakan sebuah pintu bekas yang kami berikan penyangga di bawahnya yang terbuat dari kayu dan kami satukan dengan engsel agar saat warung tertutup penyangga ini juga tidak mengganggu. Karena dari pintu penutup pastinya tinggi dari meja ini memang lebih tinggi sehingga kami memerlukan kursi yang tinggi pula. Setelah semuanya terlaksanakan, kami menanyakan kepada mitra kami mengenai konsumen yang datang ke warung, menurut beliau sekarang warungnya sering dijadikan tempat unutk nongkrong konsumen yang datang.

Pemasangan MMT

Pemasangan MMT di warung ibu Harmi ini dilaksanakan sebab sebelumnya warung pecel ini tidak memiliki indentitas warung pecel yang kuat, warung tersebut berbentuk rumah kecil berbentuk persegi yang tidak menandakan adanya usaha pecel. Tujuan dilakukan pemasangan MMT ini untuk menarik perhatian para pengguna jalan agar mengetahui adanya usaha pecel ini.

Hasil pemasangan MMT terletak ditengah warung pecel dan terjadi peningkatan penjualan pada usaha pecel ibu harmi ini. Masyarakat sekitar menjadi tertarik untuk membeli pecel dan dapat mengetahui menu-menu lain yang disediakan melalui tulisan yang terdapat didalam konten MMT.

Kelompok kami melakukan observasi ke rumah Ibu Harmi. Disana kami melihat situasi keadaan warung yang dimiliki oleh Ibu Harmi. Kemudian setelah berdiskusi dengan teman-teman, alkhirnya saya memimikirkan untuk mengambil program pendukung yaitu “sanitasi”. Program ini saya pilih karena menurut saya, Ibu Harmi perlu diajarkan cara mengolah makanan dengan baik dan benar. Ibu Harmi biasnya meletakkan produk makanannya (pecel yang siap santap sampai bahan mentah) di bagian etalase. Namun etalase ini tidak memiliki penutup sehingga memudahkan serangga seperti lalat mudah untuk masuk dan menghinggap di makanan milik ibu Harmi. Dengan ini saya memberikan suatu barang pendukung.

Sebelum memberi barang tersebut, tahap awalnya dilakukan pengukuran etalase. Ukuran etalase adalah 90 x 60 cm. Kemudian saya melakukan survey ke lapangan untuk mencari barang apa yang cocok untuk penutup etalase tersebut. Akhirnya saya memilih kain sebagai penutup etalase. Kain ini saya beli dengan ukuran 1 m dan menghasilkan 4-5 potong kain. Dengan memberi kain yang lebih ini, saya memberitahukan kepada bu Harmi untuk mengganti kain sebagai penutup etalase secara berkala. Selain itu juga saya memberi informasi sebagian kecil tentang sanitasi. Informasi tersebut berisi tentang cara mengolah bahan pangan dari mentah hingga jadi. Informasi ini juga didukung dengan adanya seminar yang dilaksanakan pada 2 Juni 2018 yang dilaksanakan pada kantor Kelurahan Gisikdrono, Semarang Barat. Dengan adanya seminar tersebut juga membantu Ibu Harmi untuk mengerti dan memahami tentang sanitasi. Selama program ini berlangsung, membuat Ibu Harmi mengalami kemajuan yang cukup baik.

Inovasi Produk Baru

Pada awalnya, Ibu Harmi hanya menjual pecel, gorengan, dan mie sambal. Gorengan yang dijual adalah gorengan-gorengan pada umumnya sebagaimana warung pecel lain menjual. Jika kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan penghasilan Ibu Harmi akan stagnan atau tetap. Tujuan kelompok kami adalah menambah menu baru atau inovasi produk agar para pembeli di warung Ibu Harmi tidak bosan dengan menu yang ada. Inovasi produk juga bertujuan untuk menambah minat pembeli sehingga dapat meningkatkan penghasilan Ibu Harmi. Kelompok kami melakukan inovasi produk dengan menambahkan tahu petir dan es blewah sebagai produk baru.

Tahu petir adalah tahu berbalut tepung berisi sayuran, udang, dan jamur. Di lokasi usaha Ibu Harmi sendiri masih sedikit orang yang menjual tahu petir (ayam geprek mendominasi). Minat pembeli terhadap tahu petir dan es blewah sangat tinggi dan mendapatkan respon positif. Inovasi produk sendiri dilakukan saat bulan puasa di mana kemungkinan orang membeli lauk pauk untuk berbuka puasa sangat tinggi dibandingkan memasak sendiri. Dengan demikian, program ini dapat meningkatkan perekonomian Ibu Harmi.

Dari observasi yang kami lakukan, selama ini Bu harmi mencuci peralatan makan dan masak yang digunakan sebatas menggunakan satu ember berisi air sehingga hanya dengan mencuci satu alat saja sudah membuat seluruh air menjadi kotor. Untuk mendapatkan persediaan air bersih, Ibu Harmi juga harus mengangkat ember berisi air yang berat sehingga membuat beliau jarang mengganti air di ember tersebut. Ember juga diletakkan di bawah sehingga membuat Ibu Harmi harus membungkuk dan mengjongkok ketika mencuci peralatan. Hal ini tentu akan mengurangi kebersihan dari peralatan makan dan masak yang ada sehingga untuk mengatasinya, kelompok kami akan memberikan tong wastafel untuk mencuci. Tujuan dari pemberian tong wastafel ini adalah untuk meningkatkan kebersihan dalam hal mencuci peralatan makan dan menghemat ketersediaan air bersih yang ada.

Pelaksanaan program ini dilakukan dengan memberikan tong wastafel kepada Ibu Harmi dan melakukan percobaan wastafel untuk pertama kali. Tong plastik sebelumnya sudah kami lubangi dengan bur dan sudah di tambahkan kran air sehingga bisa berfungsi menjadi wastafel. Dalam percobaan wastafel, kami mencoba untuk mengisi tong dengan air dan membuka kran yang ada. Ternyata air dapat mengalir walaupun kecil namun Ibu Harmi tidak mempermasalahkan hal ini karena menurutnya justru akan menghemat air bersih. Setelah di coba berkali-kali air ternyata air kemudian bisa keluar dengan lebih deras. Ibu Harmi juga menambahkan kursi untuk meletakkan wastafel diatasnya sehingga beliau tidak perlu mengjongkok untuk mencuci. Setelah adanya wastafel ini, Ibu Harmi menjadi lebih mudah dalam mencuci peralatan makan dan masak. Selain itu, tingkat kebersihan peralatan yang dimilikinya semakin baik karena air yang digunakan untuk mencuci merupakan aliran air bersih. Ibu Harmi juga tidak perlu mengangkat ember berisi air yang berat untuk mengisi tong tersebut dan beliau tidak perlu menjongkok untuk mencuci peralatan yang ada. Tidak hanya itu, wastafel yang ada tidak hanya bisa difungsikan untuk mencuci peralatan masak dan makan melainkan untuk mencuci tangan Ibu Harmi maupun konsumennya.

Mitra II – Souvenir Bu Novi

Program Mini Photobooth

Program ini merupakan progrma utama yang kami lakukan untuk mitra kami yang kedua ini. Mitra kami ini menjual souvenir yang terbuat dari rajutan. Bagi kelompok kami selain kualitas dari rajutannya sendiri. Proses pemasaran pun juga hal yang vital untuk dilakukan karena order yang di terima oleh Mba Novi ini sebagian besar dari online. Setelah kita melihat kualitas foto yang sudah pernah dilakukan oleh mitra kami melalui media sosial Instagramnya, kami merasa foto nya kurang menarik karena pencahayaannya yang berbeda-beda dengan background seadanya. Maka dari itu kami ingin membuatkan beliau mini Photobooth yang bisa digunakan untuk memfoto semuaproduk yang di hasilkan oleh mitra kami mulai dari gantungan kunci, sepatu, dompet, tas kecil, hingga tas ransel dapat di foto di mini photobooth ini.

Pada awalnya untuk program Mini Photobooth ini kami ingin membuatkannya untuk mitra kami sendiri ini. Jika kami ingin membuat yang model lipat diharuskan menggunakan bahan khusus yang harus di pesan di luar kota karena di Semarang unutk mencari bahannya susah dan juga mahal. Jika ingin murah kami bisa menggunakan dari triplek kayu unutk membuatnya tapi jika menggunakan triplek kayu sudah pasti tidak bisa dilipat sehingga akan memakan space yang cukup besar di rumah milik mitra kami. Karena pertimbangan inilah kami memutuskan untuk membeli photobooth yang sudah jadi dengan harga yang hampir sama dengan membuat sendiri dengan hasil yang lebih rapi juga di bandingkan kami harus membuat sendiri. Namun photobooth yang kami beli ini kami juga memodofikasinya dengan menambahkan LED untuk pencahayaannya dengan kabel yang sudah di buat paten untun memudahkanpenggunaanya serta agar lebih awet, dan yang pasti photobooth yang kita berikan adalah yang bisa dilipat. Setelah kami berikan ini, mitra kamisangat senang dan sekarang setiap upload barang di Facebook maupun di Instagramnya menggunakan photobooth ini dan terlihat lebih estetik dan menarik jika kita melihatnya. Semoga alat ini mampu membantu meningkatkan penjualan dari mitra kami ini.

Program Pembukuan

Saat kami melakukan observasi, kami bertanya ke Bu Novi mengenai pembukuan keuangan di usahanya ini, tetapi bu Novi tidak bisa menjawab karena beliau tidak memiliki data keuangannya. Bu Novi juga mengeluhkan bahwa ia tidak tahu apakah sebenarnya produk yang ia jual laba/rugi. Dari cerita tersebut dan kemampuan yang saya miliki di bidang akuntansi, maka kami membuatkan format perhitungan harga pokok penjualan (HPP) per produk berdasarkan mata kuliah Akuntansi Biaya, serta membuatkan format laporan laba rugi. Kedua laporan tersebut bertujuan untuk mengetahui harga pokok dari setiap produk yang mencakup Biaya Bahan Baku (BBB), Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL), dan Biaya Overhead (BOP), serta bertujuan untuk mengetahui apakah penjualan yang beliau lakukan menghasilkan sejumlah laba/ rugi.

Hasil dari pembukuan ini adalah bu Novi dan kami mengetahui bahwa ternyata banyak produk yang dijual dibawah harga pokok penjualan karena sebelumnya bu Novi tidak menghitung jumlah jam kerja yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk. Bu Novi sangat bersyukur atas adanya program pembukuan ini, karena sebenarnya jika bu Novi menaikan harga jual masih tetap dapat berkompetisi dengan UMKM rajutan yang lain. Semoga, bu Novi tetap melanjukan pembukuannya meskipun setelah program ini selesai, agar bu Novi memiliki rekapan harga pokok penjualan setiap jenis produk yang ia jual.

Inovasi Produk Baru

Pada mitra kami yang kedua ini memiliki usaha yaitu aksesoris dari rajutan, mulai dari gantungan kuci, tas, hingga sepatu pun Ibu Novi ini bisa membuatnya. Nah disini kelompok kami memandang bahwa kalau hanya mengandalkan dari rajutan saja pasti akan sulit untuk bersaing dengan usaha rajutan yang lainnya. Setelah melakukan beberapa diskusi dengan kelompok dan mitra, yang bisa membuatnya unggul dari pesaing adalah dengan adanya inovasi-inovasi yang baru. Inovasi yang kami maksud adalah dengan membuat model-model yang sedang di senangi masyarakat saat ini. Dengan harapan produk rajutan dari milik mitra kami bisa memiliki konsumen yang banyal.

Untuk menentukan model apa yang akan kami berikan, kami melakukan survei dulu kepada kurang lebihnya 100 orang responden yang kami berikan kuesioner melalui google form. Setelah mendapatkan hasil voting dari model-model yang kami ajukan, kami mencoba menanyakan kesanggupan Bu Novi untuk membuat model-model tersebut, ternyata Bu Novi sanggup dan mulai mengerjakannya. Untuk mencoba apakah model ini disukai masyarakat atau tidak, kami mencoba menjualnya di Expo KKU Kemarin, ternyata realita yang kami alami jauh lebih tinggi dari ekspektasi yang kami pernah bayangkan. Pada saat hari H Expo KKU ini, kami memajang 29 pcsgantungan kunci dengan model yang telah kami minta berdasarkan survei, belum ada 3 jam Expo berlangsung barang yang kami jualkan sudah ludes laku karena ternyata animo masyarakat yang datang sangat tinggi bahkan setelah Expo ini masih banyak pesanan yang datang untuk meminta model-model tersebut. Dengan begitu kami menyarankanmba novi untuk emmbuat model ini secara berkelanjutan dan juga kami meminta kepadanya untuk jeli-jeli melihat potensi apa yang saat ini sedang di gandrungi masyarakat dan coba untuk membuatnya.

Untuk mitra ke 2 ini merupakan mitra yang bergerak dibidang pembuatan rajut. Pemiliknya adala Ibu Novi. Pada saat observasi berlangsung, kelompok kami melihat sebagian besar produk apa saja yang dimiliki oleh Ibu Novi. Secara keseluruhan, produk yang dimiliki oleh Ibu Novi sudah memiliki ciri khas yang unik dan mempunyai daya tarik sendiri. Namun, karena kurangnya masyarakat luas mengenai produk yang diperjualbelikan oleh Ibu Novi. Setelah dilakukan diskusi antara saya dengan teman-teman saya akhirnya saya memutuskan untuk memilih program pendukung “Labelling”. Sebelumnya Ibu Novi hanya menggunakan kertas yang ditulis dengan menggunakan spidol dan kemudian diperbanyak serta diselipkan pada kemasan yang membungkus produk rajutan milik Ibu Novi. Dengan ini rencana awal saya memberikan “Labelling” berupa sepotong kain yang nantinya akan diselipkan pada produk. Sepotong kain ini akan berisi tentang informasi penting seperti nomor whatsapp dan ID Instagram.

Namun saya mengalami kendala dalam menjalankan program ini, dimana proses pembuatan pada supplier yang cukup lama. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat pemesanan saya adalah 3 bulan (terhitung dari bulan Mei). Hal ini amat sangat tidak memungkinkan saya untuk memilih pembuatan label ini. Dengan segala cara akhirnya menemukan jalan keluar. Labelling diganti dengan menggunakan alat yang bernama labeling gun yang nantinya akan ditembakkan pada kertas dan hasilnya kertas akan menggantung pada produk. Dengan adanya penambahan labeling ini diharapkan produk milik Ibu Novi bisa dikenal oleh masyarakat luas dan tidak hanya oleh kalangan orang terdekat dari Ibu Novi saja.

Peningkatan Penggunaan Teknologi

Penggunaan akun Instagram sebagai media promosi dan pemasaran pada era digital sekarang sangatlah tinggi. Pada awalnya, Ibu Novi menggunakan akun Instagram pribadi untuk mempromosikan produknya. Tentunya hal ini sangat menyulitkan jika ada pembeli yang hendak memesan secara online dengan melihat produk Ibu Novi yang diunggah ke akun pribadinya untuk membedakan mana koleksi foto pribadi dengan foto produknya. Maka dari itu, kami membuatkan akun bisnis di Instagram dengan alamat @nov_rajut.

Melalui akun bisnis ini, promosi produk Ibu Novi menjadi lebih terarah. Pembeli yang hendak melihat produk juga dimudahkan dan usaha Ibu Novi menjadi lebih meyakinkan. Akun bisnis sangat mendukung proses usaha karena fitur yang tersedia sangat lengkap seperti kontak yang dapat dihubungi. Dengan demikian, promosi produk Ibu Novi dapat lebih lancar dan diharapkan dapat meningkatkan pesanan rajut Ibu Novi.

Pembuatan MMT

Pemasangan MMT di rumah ibu Novi dilaksanakan sebagai alternative memamerkan karya bu novi di depan rumah yang menggunakan estalase kaca. Alternatif ini di pakai karena estalase kaca yang rawan pecah, tempat yang tidak memadai untuk meletakan estalase tersebut, dan juga sebagai identitasa usaha rajut yang dimiliki ibu Novi.

Hasil dari pemasangan MMT ini adalah sangat terlihat semakin banyak tetangga dan masyarakat luar yang sekitar yang memesan rajutan kepada ibu Novi. Konten MMT ini terdiri nama usaha, gambar-gambar karya ibu Novi dan alamat sosial media yang digunakan sebagai media promosi.

Dalam kunjungan yang kami lakukan, kami mengadakan observasi dan wawancara dengan mitra. Kami juga melihat secara langsung produk-produk yang ada di rumah mitra. Sayangnya tidak semua produk yang dibuat mitra tersedia di rumah sebagai barang contoh. Ibu Novi juga menambahkan bahwa selama ini beliau hanya menunjukkan barang contoh melalui foto di handphone nya padahal sudah banyak sekali produk Nov Rajut yang pernah dibuat. Dari wawancara kami dengan Ibu Novi, beliau menjelaskan bahwa banyak calon konsumennya yang datang ke rumah untuk melihat barang contoh namun tidak ada. Menanggapi hal tersebut, kelompok kami kemudian menyusun program pembuatan catalog. Tujuan dari adanya catalog ini adalah sebagai portofolio seluruh karya yang pernah dibuat oleh Ibu Novi sehingga nantinya catalog ini bisa diletakkan di rumah untuk ditunjukkan pada konsumen yang datang.

Awalnya pelaksanaan catalog ini akan kami buat seperti album foto dan setiap foto yang ada di ambil dengan kamera kemudian di cetak lalu di masukkan dalam album. Namun, kelompok kami mempertimbangkan pelaksanaan program jangka panjang mengingat bahwa mitra tidak memiliki kamera sehingga akan sulit bagi beliau untuk mengisi album foto ke depannya. Akhirnya kami memutuskan untuk membuatkan desain foto-foto produk yang ada (menggunakan kamera handphone) dan kami print dengan kertas yang tentunya berkualitas bagus. Template design juga kami berikan pada mitra sehingga ke depannya mitra bisa mengedit dengan foto-foto produk terbaru dan mencetaknya sendiri sehingga menambah hasil portofolio catalog tersebut. Setelah pelakasaan program ini, Ibu Novi merasa sangat senang dan terbantu karena dengan catalog ini beliau tidak perlu repot-repot mencari foto-foto dari waktu lalu. Di tambah dengan adanya berbagai keterangan pada catalog seperti nama produk, harga, ukuran, macam-macam warna dan adanya pengelompokkan isi catalog dimana produk yang sama akan diletakkan di halaman yang sama. Hal ini sangat mempermudah Ibu Novi dalam menjelaskan produknya pada konsumen dan diharapkan konsumen semakin tertarik dengan produk Ibu Novi karena melihat betapa beragamnya produk yang beliau jual.

 

Kesimpulan

Program-program yang kami jalani tidak semuanya berjalan mulus, bahkan beberapa program yang sudah terjadi ini adalah program pengganti dari program-program yang kami buat di awal. Namun hasil yang didapatkan dari program-program ini menurut kami lebih baik dari program yang sebelum nya. Semisal saja dari program labelling yang awalnya ingin menggunakan sepotong kain yang pastinya akan lebih ribet dalam pemasangannya justru kami menemukan alat labelling gun yang kami yakini lebih mudah dan simple penggunaanya.

            Setelah melakukan semua program-program yang kami lakukan, kami selalu memfollow up dari mitra kami mengenai program yang kami ajarkan apakah dilakukan. Bagi kami ini adalah salah satu penilaian keberhasilan program kami, jika program yang kami ajarkan dilanjutkanterus berarti kami menganggap program kami ini berhasil membantu mereka. Ternyata semua program yang kami berikan hingga pada pertemuan terakhir dengan mitra masi di lakukan semua dengan baik. Bagi kami ini adalah sebuah keberhasilan dari program-program kami ini.

            Semoga, dengan adanya program KKU kami di mitra Bu Harmi dan Bu Novi, beliau semakin sukses untuk menjalankan UMKM nya untuk menghidupi keluarganya. Kami mengucapkan terima kasih kepada LPPM Unika Soegijapranata atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk saling berbagi ilmu pengentahuan dan pengalaman untuk pengembangan mitra-mitra UMKM yang ada di Semarang agar lebih sukses dan mandiri kedepannya.

 

Video dapat diakses di https://youtu.be/HgGTtbd4s2M