Kegiatan KKU Kelompok 21 Wilayah Kemijen Periode Semester Ganjil 2017/2018

by satgas

18 December 2017


 

Mitra 1: Bandeng Presto Ibu Annis

            Bandeng presto Ibu Annis sudah dikenali oleh banyak masyarakat umum, terutama di wilayah Kemijen. Rasa dari bandeng presto ini sudah tidak diragukan lagi kenikmatanya. Untuk proses pembuatannya sendiri bandeng presto Ibu Annis diproduksi di rumah tinggalnya sendiri yang didiami oleh suami istri dan 2 orang anak perempuan (SD dan SMK), dengan menggunakan kompor dan juga panci didukung dengan beberapa alat masak lain milik Ibu Annis pribadi. Kondisi rumah dan juga tempat memasaknya bisa dibilang sangat sederhana dengan ruang gerak yang terbatas dan juga beberapa alat – alat masak yang sudah mulai rusak. Saat Ibu Annis memproduksi bandeng presto di rumahnya terasa sangat panas karena di rumah Ibu Annis sendiri dinilai kurang memiliki ventilasi udara yang cukup untuk mengeluarkan hawa panas akibat proses prestonya. Untuk pemasarannya sendiri Ibu Annis menjualnya di rumahnya sendiri dan enggan untuk menitipkan barang jualannya untuk menjaga kualitas prestonya tetap baik. Kondisi penjualannya tidak selalu baik, tergantung dengan kondisi perekonomian konsumen pada saat itu dan juga dipengaruhi oleh harga bandeng yang naik turun (tidak stabil). Dalam meraih keuntungan Ibu Annis juga mengaku tidak mengambil terlalu banyak.

 

Mitra 2: Bumbu Masak Pak Udswitoni

            Bumbu masak Pak Udswitoni adalah bumbu masak tradisional yang tidak menggunakan bahan pengawet dan campuran bahan kimia lainnya. Bumbu masak ini diproduksi oleh Bapak dan Ibu Udswitoni didalam rumah tinggalnya dengan menggunakan mesin khusus untuk memproduksi bumbu – bumbunya. Di rumah tinggal Pak Uds sendiri dihuni oleh Bapak dan Ibu Uds serta 2 cucu perempuan yang tinggal bersamanya. Jika dilihat rumah Pak Uds sudah terbilang lebih baik karena dari segi ukuran rumahnya cukup besar, penghawaannya nyaman sehingga dalam proses produksi tidak mengalami kendala yang besar, hanya kendala pada suara yang dikeluarkan oleh mesin produksi yang terdengar cukup keras, namun bapak dan ibu serta tetangga – tetangga sudah terbiasa dan memaklumi kondisi tersebut. Untuk penjualannya sendiri bumbu ini dijual di rumah dan juga sebagian dititipkan ke pasar – pasar yang diangkut oleh seorang sales terasi yang kebetulan juga menjualkan bumbu masak milik Pak Uds ini. Pendapatan yang diperoleh oleh Pak Uds sendiri terbilang sangat minim, karena proses produksi pengemasan dilakukan secara manual dan juga apabila harga bahan baku naik, harga penjualan bumbu Pak Uds tetap stabil di harga dan isi bumbu yang sama karena penolakan kenaikan harga oleh konsumen (reseller pasar).