KEGIATAN KKU SOEGIJAPRANATA - KELOMPOK 32 TAMBAKMULYO

by admin

25 July 2018


RESUME KEGIATAN KKU
SEMESTER GENAP TAHUN 2017/2018

NAMA KELOMPOK             : Kelompok 32
LOKASI BINAAN                  : Tambak Mulyo RT 03/RW 13

DAFTAR KELOMPOK          :

Felicia Wiyarta                                   15.E1.0007

Tjia, Jeanny Puspita Kurniawan        15.I2.0017

Esther Kusumawati                            15.G1.0065

Yasmin Sakina                                   15.D1.0162

Yusuf Aditiya P. P.                             14.I1.0122

Jainal Ariffin                                      14.A1.0129

Ringkasan Ibu Susi Listyowati

            Kelompok 32 KKU Wilayah Tambak Mulyo mendapatkan kesempatan mendampingi dua mitra yang berasal dari RT 03/RW 13. Mitra kami yang pertama bernama Ibu Susi Listyowati, atau yang kerap kami sapa Ibu Susi. Beliau berusia 43 tahun, merupakan single parent, dan dikaruniai tiga orang anak.  Mulanya pekerjaan Ibu Susi adalah buruh pabrik garmen tetapi kemudian beralih profesi menjadi pemilik “Warung Sarapan Pagi Bu Susi” dengan menu nasi goring, nasi kuning, serta beberapa menu lainnya. Maka dari itu, kami melakukan pendampingan selama KKU yang memiliki satu program unggulan (program utama) yang dikoordinasi oleh seluruh anggota kelompok dan enam program pendukung yang dikoordinasi oleh setiap anggota kelompok. Berikut adalah seluruh rincian dari program sekaligus kegiatan yang kami lakukan untuk Ibu Susi selama kegiatan KKU berlangsung:

Untuk program unggulan atau program utama kami yaitu peningkatan keamanan kerja melalui pengadaan meja yang memiliki laci.  Hasil yang bisa dicapai dari program ini adalah membantu Ibu Susi dalam efisiensi waktu maupun tenaga. Karena yang digunakan sebelumnya hanya meja bekas yang tidak memiliki laci sehingga keterbatasan tenaga kerja yang ada membuat Ibu Susi menjadi mudah lelah karena harus mengangkuti barang dagangannya dari rumah ke tempat jualan dan sebaliknya. Maka dari itu kami memberikan meja dengan laci untuk menyimpan peralatan sehingga meningkatkan keamanan kerja dengan meminimalkan kecelakaan kerja akibat beban pengangkutan yang terlalu berat yang dilakukan oleh Ibu Susi. Pada bagian atas meja, kami memberi tambahan aluminium agar mudah dibersihkan dari kotoran sekaligus menjaga ketahanan meja. Kami juga melapisi seluruh bagian luar meja dengan mika plastik agar tahan dari air rob maupun air hujan. Program ini terlaksana pada minggu pertama bulan mei untuk peletakan meja di tempat Ibu Susi berjualan, dan minggu pertama bulan juni untuk melapisi mika plastik pada meja.

            Program pendukung pertama yang telah kami lakukan adalah inovasi produk jamur krispi. Program ini terlaksana pada minggu pertama bulan Mei. Kami menjalankan program ini karena melihat peluang pengembangan menu Ibu Susi, sebab menu yang dijual hanya sedikit dan tiap hari selalu sama sehingga ada kemungkinan konsumen terutama anak-anak menjadi bosan. Maka dari itu kami melakukan inovasi produk jamur krispi karena jamur memiliki harga yang murah dan disukai semua kalangan masyarakat. Jenis jamur yang kami gunakan pada pembuatan inovasi ini adalah jamur tiram. Dari hasil yang kami temukan, menu baru jamur krispi ini terjual laris karena banyak anak kecil yang menggemari menu makanan ini. Sehingga produk tersebut menjadi menu tetap yang dijual setiap hari dengan harga Rp 2.000/porsi.

            Program pendukung kedua yang telah kami lakukan adalah peningkatan branding pada kemasan melalui pengadaan stampel. Program ini terlaksana pada minggu ketiga bulan Mei, dengan tujuan supaya ketika menerima pesanan dalam skala besar, Ibu Susi dapat memberi branding pada bungkus dengan di cap pada bungkus makanan dengan stampel sehingga secara tidak langsung dapat membantu proses promosi usaha yang dimiliki Ibu Susi. Identitas dagang yang tertera pada bungkus makanan Ibu Susi juga terdapat kontak dari Ibu Susi sehingga mempermudah dan membantu komunikasi antara Ibu Susi dengan konsumen yang memesan. Hasil yang kami temukan, konsumen bisa menghubungi lewat nomer hp yang tertera pada stempel untuk melakukan pemesanan.

            Program pendukung ketiga yang telah terlaksana adalah pengadaan sarana prasarana dan peningkatan keamanan pangan melalui pengadaan rak bumbu, talenan, dan capitan. Program ini terlaksana pada minggu keempat bulan Mei. Dengan adanya program ini akan berguna untuk meningkatkan faktor higienitas dari makanan, sekaligus mempermudah Ibu Susi dalam memproduksi makanan yang dimasak. Hasil yang dapat kami lihat adalah Ibu Susi sudah memanfaatkan peralatan-peralatan tersebut untuk membantu beliau dalam proses memasak dan berjualan setiap hari.  

Program pendukung keempat yang telah kami lakukan adalah pengadaan sarana prasarana dan peningkatan keamanan pangan melalui tudung saji. Program ini terlaksana pada minggu ketiga bulan Mei. Dengan adanya program melalui kegiatan pemberian tudung saji ini akan membantu menjaga kebersihan makanan yang dijual oleh Ibu Susi supaya tidak terhinggap serangga seperti lalat sekaligus terhindar dari polusi udara. Hasil yang kami temukan, Ibu Susi selalu menggunakan tudung saji yang kami berikan setiap hari guna menjaga kebersihan makanan yang dijual.

            Program pendukung kelima yang telah dilakukan adalah peningkatan personal hygiene melalui pengadaan celemek dan serbet yang terlaksana pada minggu kedua bulan Juni. Dalam kegiatan berjualan sehari-hari Ibu Susi, tidak menggunakan celemek dan serbet selama proses produksi. Kami memberi celemek dan tiga serbet dengan kegunaan yang berbeda-beda untuk meningkatkan personal hygiene. Serbet yang ke-1 dimanfaatkan untuk mengelap peralatan memasak sebelum digunakan, serbet yang ke-2 dimanfaatkan untuk membersihkan meja sebelum dan setelah meja digunakan untuk berjualan, sedangkan serbet yang ke-3 dimanfaatkan untuk mengelap tangan Ibu Susi setelah mencuci tangan agar air cuci tangan tidak masuk dan mengontaminasi makanan. Sedangkan celemek digunakan untuk mencegah kotoran masuk maupun keluar dari pakaian Ibu Susi. Hasil yang kami temukan, Ibu Susi selalu menggunakan celemek dan serbet sesuai dengan fungsinya.

            Program pendukung yang keenam adalah pemberian identitas usaha sebagai sarana pemasaran, melalui pengadaan MMT. Program ini terlaksana pada minggu ke dua bulan Juni. Kami melaksanakan program ini karena melihat kondisi tempat Ibu Susi yang belum memiliki identitas usaha, dan kami merasa bahwa identitas usaha sangatlah diperlukan guna sebagai sarana pemasaran atau promosi. Selain itu MMT berisi nama warung Ibu Susi, menu, dan nomor WhatsApp yang digunakan untuk menerima pesanan. Sebelum dicetak, kami meminta persetujuan Ibu Susi terlebih dahulu mengenai desain kami dan Ibu Susi menyetujuinya. MMT kami cetak dengan ukuran 1,5 x 0,75 meter. Hasil yang kami temukan, sekarang warung Ibu Susi telah memiliki identitas sekaligus membantu konsumen dalam memilih menu dan mengetahui menu apa saja yang dijual oleh Ibu Susi.

            Program pendukung ketujuh dari kelompok kami adalah inovasi produk es kepal milo. Program ini merupakan program pendukung yang tidak terencana. Program ini terbentuk dikarenakan permintaan Ibu Susi untuk melakukan inovasi produk terkait dengan kondisi pasar yang sedang meminati menu ini. Sehingga selama bulan puasa Ibu Susi menambahkan menu es kepal milo untuk menu berjualan di sore hari. Selain mengajarkan cara membuat es kepal milo, kami juga membantu perhitungan HPP supaya Ibu Susi bisa mengetahui harga modal sekaligus harga jual yang bisa digunakan. Program ini terlaksana pada minggu pertama bulan Juni.

 

 

 

Ringkasan Ibu Nur Cahyati

            Sedangkan mitra kedua kami bernama Ibu Nur Cahyati, yang berusia 51 tahun, memiliki suami yang bernama Bapak Sunoto yang berusia 54 tahun. Usaha yang dimiliki Ibu Nur sudah berjalan selama 30 tahun, tetapi selama perjalanan 30 tahun itu Ibu Nur sempat berganti-ganti. Awalnya Ibu Nur hanya membuka warung makan, kemudian membuka toko klontong, tapi pernah juga warung Ibu Nur tutup dan hanya menjalankan toko klontong, tapi sekarang ini Ibu Nur bersama suaminya membuka kembali warung makan yang buka 24 jam sekaligus toko klontong karena suami Ibu Nur sudah pensiun dari pekerjaannya yaitu nelayan. Ibu Nur dan suaminya sendiri dikaruniai lima orang anak, empat diantaranya sudah memiliki keluarga sendiri dan pekerjaan, sehingga tanggungan Ibu Nur tinggal satu anak bungsunya yang tahun ini baru saja lulus dari SMA. Untuk lokasi berjualan, Ibu Nur juga berlokasi di RT 3 / RW 13 berdekatan dengan warung sarapan pagi milik Ibu Susi. Maka dari itu, kami melakukan pendampingan selama KKU yang memiliki satu program unggulan (program utama) yang dikoordinasi oleh seluruh anggota kelompok dan enam program pendukung yang dikoordinasi oleh setiap anggota kelompok. Berikut adalah seluruh rincian dari program sekaligus kegiatan yang kami lakukan untuk Ibu Nur selama kegiatan KKU berlangsung:

            Untuk program unggulan atau program utama kami yaitu peningkatan keamanan kerja melalui pengadaan meja untuk tempat kompor karena  kegiatan utama Ibu Nur adalah memasak,  sehingga Ibu Nur lebih nyaman dalam kegiatan memasak sehingga usaha Ibu Nur bisa berjalan lancar setiap harinya selain itu mengingat bahwa faktor usia dari Ibu Nur sendiri yang telah memasuki usia lanjut dimana rentan terhadap penyakit yang mungkin timbul akibat terlalu banyak jongkok saat memasak. Program ini terlaksana pada minggu pertama bulan Mei. Hasil yang kami temukan, meja ini digunakan oleh Ibu Nur sebagai tempat kompor yang digunakan dalam kegiatan memasak setiap hari.

            Sedangkan untuk program pendukung pertama kami adalah pemberian edukasi branding pada produk melalui stampel  dan promosi usaha melalui nota invoice. Pengadaan stampel ini bertujuan supaya ketika menerima pesanan dalam skala besar, Ibu Nur dapat memberi branding pada bungkus dengan di cap dengan stampel sehingga secara tidak langsung dapat membantu proses promosi usaha yang dimiliki Ibu Nur. Selain itu, stampel tersebut dapat dicapkan pada nota pada saat Ibu Nur menerima pesanan dalam jumlah yang besar. Identitas dagang yang tertera pada bungkus makanan dan nota invoice Ibu Nur terdapat kontak dari Ibu Nur sehingga mepermudah dan membantu komunikasi antara Ibu Susi dengan konsumen yang memesan. Stampel ini digunakan untuk kemasan nasi rames Ibu Nur yang dibungkus dengan kertas minyak coklat. Hasil yang kami temukan, Ibu Nur sudah mulai menggunakan stampel untuk dicapkan pada bungkus makanan, untuk pembuatan nota sendiri masih menunggu jika ada pesanan dalam skala besar. Tetapi kami juga telah memberikan edukasi sehingga stampel ini bisa digunakan semaksimal mungkin. Program ini terlaksana pada minggu ketiga bulan April dan minggu pertama bulan Mei.

            Program pendukung kedua adalah pengadaan sarana prasarana berupa lap dan pemberian edukasi peningkatan higienitas. Program ini terlaksana pada minggu pertama bulan Mei. Dengan kondisi awal alas dan kaca etalase pada bagian dalam maupun luar yang digunakan untuk menyajikan makanan jarang dibersihkan oleh Ibu Nur. Banyak debu, kotoran bekas makanan yang menempel, bahkan ada sarang laba-laba di dalam etalase. Maka dari itu, program kami yang telah terlaksana adalah pengadaan lap yang digunakan untuk membersihkan etalase. Tak hanya memberi lap, kami juga memberi edukasi dan mempraktekan di setiap kunjungan. Kami selalu menyampaikan kepada Ibu Nur agar membersihkan kaca dan taplak yang sudah kami pasang baik sebelum dan sesudah berjualan. Hasil yang kami temukan, etalase tempat menaruh hidangan makanan terlihat lebih bersih.

            Program pendukung ketiga adalah penataan ulang lokasi produk usaha. Kami merancang denah penataan ulang agar dapat diaplikasikan pada warung Ibu Nur sehingga area berjualan Ibu Nur lebih terlihat rapi, bersih. Namun ternyata rumah dan warung Ibu Nur sedang direnovasi sehingga kami tidak bisa mengaplikasikan dan membuatkan denah yang baru. Ibu Nur juga senang sudah diberi rancangan penataan ulang warung berupa gambar denah sehingga memudahkan beliau menyusun ulang produk jualannya. Hal yang membedakan yaitu tempat cuci piring dan rak tempat penyimpanan peralatan memasak dipisahkan dengan tempat burung sehingga kotoran dan bulu burung tidak menempel pada peralatan memasak maupun makanan yang dimasak. Program ini terlaksana pada minggu keempat bulan Mei dan minggu kedua bulan Juni.

            Program pendukung kami yang keempat adalah peningkatan higienitas dengan pengadaan tirai penutup etalase dan alas. Program ini terlaksana pada minggu keempat bulan Mei. Dalam kegiatan berjualan sehari-hari Ibu Nur meletakan makanan didalam etalase tetapi tidak menggunakan tirai penutup, sehingga makanan mudah terkena polusi udara atau bahkan dapat dihinggapi oleh serangga seperti lalat. Selain itu alas yang digunakan pada etalase adalah kardus atau kertas koran. Namun kardus atau kertas koran itu jarang diganti dan diganti apabila sudah terlihat kotor. Maka dari itu kami melakukan pengadaan tirai untuk penutup lemari makanan sekaligus mengganti alas yang ada dilemari dengan taplak plastik sehingga didalam lemari kaca lebih mudah dibersihkan setiap saat.

            Program pendukung kelima adalah peningkatan kenyamanan konsumen dengan pengadaan tikar yang terlaksana pada minggu pertama bulan Juni. Kenyamanan konsumen adalah salah satu faktor yang penting dalam pengembangan usaha. Pada saat observasi kami melihat hanya ada satu kursi panjang di warung Ibu Nur yang digunakan konsumen untuk duduk, sedangkan banyak konsumen Ibu Nur yang datang terutama pada saat malam hari banyak pemuda yang makan dan nongkrong di warung milik Ibu Nur. Keterbatasan itulah yang mendorong kelompok kami menyediakan tikar untuk tempat duduk tambahan. Tikar tersebut digelar di sekitar warung sehingga  konsumen yang ingin membeli makanan atau minuman dan menikmati secara langsung di warung Ibu Susi mendapatkan tempat duduk dan merasa nyaman.

            Program pendukung keenam adalah pemberian identitas usaha sebagai sarana pemasaran yang terlaksana pada minggu kedua bulan Juni. Kelompok KKU 32 tidak menemukan adanya identitas pada usaha Ibu Nur. Oleh karena itu, kelompok KKU 32 mendesain dan mencetak MMT sebagai identitas usaha Ibu Nur. MMT berisi nama warung Ibu Nur menggunakan nama anaknya yang bernama Fitri, menu, dan nomor WhatsApp yang digunakan untuk menerima pesanan. Sebelum dicetak, kami meminta persetujuan Ibu Nur dan suami terlebih dahulu mengenai desain kami. Pada awalnya kami ingin membuat MMT dengan ukuran yang sama dengan Ibu Susi yaitu 1,5 x 0,75 m, namun Ibu Nur mengatakan agar panjangnya dikurangi agar pas dengan ukuran warungnya sehingga kami mengganti ukuran MMT menjadi 1 x 0,75 meter. Dengan adanya identitas usaha dapat membantu usaha yang dimiliki mitra  untuk lebih mudah dan lebih cepat dikenal oleh konsumen.